[Khutbah ‘Iedul Adha] Tauhid dan Keteladanan


image

Ahmad Zainuddin, Ketua Lajnah Tadrid Dewan Syariah PKS

PKS Cibitung.Com [TM]
Berikut ceramah Idul Adha Ust Ahmad Zainuddin :

TAUHID DAN KETELADANAN

Jamaah Sholat Ied Rohimakumullah

Hari ini, pada detik ini, tiga juta lebih jamaah haji tengah melakukan mabit di Muzdalifah….dan sebentar lagi, saat matahari terbit mereka berbondong-bondong menuju Mina untuk seterusnya melempar jumrah aqobah, atau menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah. Mereka agungkan Allah atas kebesaran-Nya, mereka mahasucikan Allah dengan memanjatkan  puja dan puji hanya kepada-Nya, mereka esakan Allah dengan mentauhidkannya.

Hari ini, di pagi yang cerah ini, di halaman yang insya Allah penuh berkah ini, kita tundukkan kepala, kita tawadhu’kan jiwa dan raga, kita rendah diri sepenuh hati seraya berucap dengan tulus, Allahu Akbar, ya Allah engkaulah dzat maha besar, kami tidak berdaya, kami tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa di hadapan kebesaran-Mu. Tiada tuhan yang wajib disembah kecuali hanya Engkau, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan, maha suci Engkau dan hanya bagi-Mu segala puja dan puji

Allahu Akbar 3x Laailaaha illahu dst.

Jamaah Sholat Ied Rohimakumullah 

Rekaman sejarah itu kembali terulang, sejarah seorang tokoh besar yang menjadi sentral ummat manusia dan alam raya, Abul anbiya’ wal mursaliin Nabi Ibrahim as. Yang membuka sekaligus memperkenalkan sebuah peradaban agung. Peradaban ummat manusia yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan, Peradaban yang tidak saja membawa kebahagiaan di dunia yang fana, tapi juga ketentraman dan kebahagiaan di akhirat yang baqa. Benar, dia adalah peradaban tauhid, yang hanya mengagungkan Allah, mengesakan Allah, memaha sucikan Allah, memanjatkan puja dan puji hanya kepada Allah. Dan itulah yang kita ulang-ulang di hari yang penuh dengan keutamaan ini. Dan Nabi Ibrahim mendeklarasikan peradaban yang mulia ini ke seantero dunia saat itu, tanpa khawatir dan tanpa rasa takut sedikitpun:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.(QS. Al An’aam: 79)

Deklarasi ini, tidaklah datang dengan tiba-tiba, tidaklah muncul dengan spontanitas. Sebagai pelajaran bagi ummat manusia saat itu, deklarasi ini melalui sebuah proses  panjang dan cukup melelahkan. Sebagaimana yang Allah kisahkan di ayat-ayat sebelumnya, Beliau melihat bintang gemintang yang indah di pandang, bulan purnama yang menyilaukan mata, juga matahari yang penuh dengan kekuatan dan energi. Semua bukanlah tuhan, dan sama sekali tidak layak untuk dijadikan sandaran kemuliaan dan kekuatan. Bintang bisa redup, bulan purnama bisa tenggelam, mataharipun di kala senja pasti akan terbenam.

Jadi siapapun yang mengandalkan bintang, memberhalakan bulan, mendewakan matahari, maka dia akan redup bersama redupnya bintang, akan tenggelam bersama tenggelamnya bulan dan akan terbenam bersama terbenamnya matahari. Dan betapa banyak manusia sekarang ini -semoga kita tidak termasuk di dalamnya- yang mengejar bintang bintang itu, kemudian tertipu karenanya, menggapai kebahagian dengan mengandalkan bulan-bulan itu dan kemudian sengsara karenanya. Betapa banyak yang mendewakan matahari, kemudian dia tersesat karenanya. 

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al Baqoroh: 130)

Ma’asyirol Muslimin 

Kita kembali kepada tokoh sentral kita, Nabi Ibrahim. Setelah peradaban ini beliau umumkan, setelah aqidatut tauhid ini beliau deklarasian, datanglah tantangan demi tantangan ujian demi ujian, cobaan demi cobaan. Kerajaan besar yang ada pada saat itu, murka !, 

Raja dan hampir seluruh warganya tidak bisa menerima dakwah Ibrahim. Karena memang tauhid secara diametral bertentangan dengan syirik, sebuah keyakinan yang mereka anut saat itu,  apalagi pada saat yang bersamaan, Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung yang mereka sembah, dan membiarkan satu patung besar. Dan ini dimaksudnya untuk memancing mereka. Terjadilah diskusi dan perdebatan, dan dengan izin Allah, Nabi Ibrahim bisa mematahkan seluruh argumentasi mereka. Merekapun marah, dan dengan membabi buta mereka mengatakan.
 
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. (QS. Al Anbiya: 68)

Allah pun berfirman kepada api: 

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiya: 69)

Allahu Akbar 2x Wa Lillahilhamd.

Jamaah Sholat Ied Rohimakumullah

Ternyata ujian tidak berhenti sampai di situ. Memang beliau sukses melakukan pengkondisian eksternal, menaklukan musuh di luar, sekaligus menyebarkan agama Tauhid di tengah-tengah ummat manusia. Bagaimanakah kondisi internal dan keluarganya ? Bagaimanakah manajemen pembinaan istri dan anak keturunannya ? Apakah sekokoh dan sekuat seperti yang di luar sana ? Maka, ujian dan cobaan itupun kembali datang. Allah memerintahkan beliau untuk meninggalkan bayi dan istri yang masih lemah sehabis melahirkan, di tempat yang tidak berpenghuni dan tidak ada tumbuh-tumbuhan disana. Tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa di sana ! 

Sang istripun sempat tidak habis pikir dengan “ide yang di luar nalar” ini, seraya bertanya: “Apa yang terjadi pada dirimu wahai Ibrahim ?” Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah katapun. Dan sepertinya diam adalah jawaban terbaik saat itu. Hajar pun mencecar dengan pertanyaan berikutnya: “Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu wahai suamiku ?” Barulah saat itu Nabi Ibrahim menjawab, itupun hanya dengan satu kata: “Ya”. 

Dengan penuh  ketegaran, Hajar mengatakan:  “Kalau demikian halnya,  pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”. Apakah waktu itu Ibrahim betul betul tega ? Dan dengan begitu mudah bisa menaklukkan kegundahan dan kegelisahan jiwanya akibat perintah yg berat ini ? 

Sepertinya tidak, Nabi Ibrahim segera mengadu kepada Allah atas perintah yang berat ini:, 

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Allahu Akbar 2x Laailaha ilaLlahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Beberapa tahun kemudian, Ibrahim datang menemui istri dan anaknya yang telah menginjak remaja. Betapa bahagia, sekian lama berpisah, kini mereka kembali bersua.  Namun ujian berat itu kembali datang di tengah-tengah kebahagiaan. Cobaan  besar itu datang di tengah-tengah keceriaan. Putera yang bertahun-tahun diimpi-impikan kehahirannya,  Putra yang sedang tumbuh  dan berwajah tampan itu, harus disembelih. Sebuah perintah, yang lagi-lagi di luar nalar kemanusiaan.
 
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffaat: 102)

Cobaan yang sangat berat. Ujian yang seolah di luar nalar. Namun baik ayah, istri maupun anak yang mau dikorbankan sepakat mematuhi perintah berat itu. 

Sungguh alangkah kuatnya respon mereka terhadap wahyu Allah, alangkah patuhnya mereka terhadap perintah Allah. Dan betapa tarbiyah Ibrahim -dengan izin Allah- mampu mengkondisikan seisi rumahnya untuk  memiliki sur’atul istijabah, kecepatan dalam ketaatan dan kepatuhan. Nabi Ibrahimpun melaksanakan perintah itu, sampai Allah kemudian mengganti Ismail dengan domba di detik-detik penyembelihannya.

Ma’asyirol Muslimin

Pada akhirnya,  Ibrahim tidak  saja sukses dan lulus menyelesaikan berbagai macam cobaan dan  tantangan  eksternal, menaklukkan musuh di luar  demi tegaknya kalimatut tauhid, namun -dengan izin Allah- kalimat tauhid itu ternyata lebih dulu tegak di tengah-tengah keluarganya. Ibrahim suskes mengkondisikannya, lulus atas ujian-ujian yang menyangkut anak keturunannya, taat dan patuh dalam melaksanakan semua seruan agama. 

Tiga pangkat dan predikat besar, akhirnya Allah berikan kepada Ibrahim as. Tiga predikat yang menjadikan beliau sebagai salah satu  tokoh sentral  manusia di alam raya ini.

Yang pertama, Allah mengangkat beliau sebagai pemimpin ummat manusia: 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (QS. Al  Baqoroh: 124)

Yang kedua, Allah menganugerahkan kualitas personal. Mutu seorang kader yang bernama Ibrahim, menyamai sebuah bangsa.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An Nahl: 120)

Dan yang ketiga Allah menjadikan Ibarahim sebagai tauladan ummat manusia:

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah: 4)
 

Ma’asyirol Muslimiin

Tiba-tiba saja pada titik ini, saya merenung agak dalam, dan saya memahami kisah yang luar biasa ini sesungguhnya adalah peringatan keras, atau mungkin tamparan buat kita. Banyak yang suskes mengajak orang di luar, namun gagal mengkondisikan keluarga di dalam. 

Berbusa-busa dan penuh retorika menarik ketika menasihati orang di luar, namun bungkam seribu bahasa tatkala berhadapan dengan yang ada di dalam. Bahkan di luar di elu-elukan, di luar mendapatkan sanjungan, diluar penuh kharisma dan kehebatan namun di dalam diabaikan, di dalam di acuhkan, di dalam terjadi degradasi kewibawaan, karena ternyata gagal memberi keteladanan.

Karena itu dalam kesempatkan yang berbahagia ini, di hari yang penuh keutamaan ini, mari kita teladani Ibrahim, sosok besar yang mampu -dengan izin Allah- menggalang solidaritas eksternal dengan tetap sukses mengokohkan soliditas internal.  Mari dengan tulus berdoa, moga Allah memudahkan kita utk mencapai cita-cita besar tersebut. Dan inilah pengorbanan yang sesungguhnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s