Suksesi PKS dan Anomali Di Dunia Yang Bergetah


image

Konpers MS PKS

PKS Cibitung.Com [TM]
Suksesi kepemimpinan PKS yang dihelat di Padalarang, Jawa Barat kemarin, membuat ingatan saya melayang pada goresan pena Dahlan Iskan pada September 1998. Dahlan yang kala itu masih menjadi Direktur Jawa Pos, menulis sebuah artikel berjudul Massa santun Di Dunia yang Bergetah, sebagai apresiasi sekaligus keterpesonaan dia terhadap deklarasi Partai Keadilan—cikal bakal PKS– di Surabaya, Jawa Timur. Di akhir artikelnya, Dahlan menulis:

Yang kita tunggu, bagaimana ketika mereka bertekad untuk berkiprah di panggung politik, yang bukan hanya banyak getah lama tapi juga akan muncul getah-getah baru…

Sudah 17 tahun rentang jarak tulisan Dahlan Iskan dengan keberadaan PKS hari ini. Waktu yang tak singkat namun tidak juga panjang. Dalam interval masa tersebut, PKS telah mengikuti 4 kali pemilu. Pertanyaannya kemudian, apakah kekhawatiran Dahlan Iskan yang tercermin dalam tulisannya telah terbukti? Adakah PKS terkena getah?
Di panggung politik, getah-getah bertebaran di setiap sudut. Dan semua partai politik sulit mengelak dari getah tersebut,  termasuk PKS yang mencitrakan dirinya sebagai partai bersih. Dalam perjalanannya, PKS pada akhirnya terkena tetesan getah-getah tersebut. Kasus korupsi yang menimpa segelintir kadernya—terlepas ada tidaknya konspirasi untuk menjatuhkan PKS—mengkonfirmasi kekhawatiran Dahlan Iskan.

Tetesan getah tersebut memang sangat sulit dielakkan karena ijtihad menjadikan dakwah sebagai partai politik bukanlah perkara mudah. Menjadi partai politik adalah soal bagaimana meraih suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu. Ironisnya, persoalan bagaimana meraih simpati publik di alam demokrasi kerap “berbenturan” dengan nilai-nilai dakwah. Aroma politik uang begitu menyengat.

Di lapangan, kerap kali terjadi kegamangan. Bolehkah caleg PKS memberikan uang kepada masyarakat agar memilihnya? Bolehkah menyuap rakyat dengan sembako atau lembaran rupiah? Bolehkah meminta “mahar” kepada calon pemimpin daerah yang akan diusungnya? Deretan kegamangan ini harus diakui mewarnai perjalanan PKS hingga kini. Dalam sebuah tulisan, saya mengistilahkan fenomena ini dengan istilah “metamorfosa yang belum tuntas.”(http://www.kabarumat.com/2015/04/1972/pks-mazhab-baru-dan-metamorfosa-yang-belum-tuntas/)

Cermati baik-baik. Dalam tulisan kali ini, saya konsisten menggunakan kata tetesan getah; bukan guyuran getah. Ya, karena saya dan kita harus mengakui bahwa dibandingkan semua partai politik yang ada, PKS adalah partai yang tidak terkena guyuran getah. Perhelatan suksesi kepemimpinan PKS yang berlangsung kemarin menjadi bukti tak terbantahkan.
Dalam setiap suksesi kepemimpinannya, proses yang terjadi selalu berlangsung smooth. Tiada gontok-gontokan, konflik, apalagi politik uang. Menariknya, kondisi ini tak cuma terjadi pada saat normal, melainkan juga ketika partai berada dalam kondisi kritis. Masih ingat dengan pergantian kepemimpinan dari Luthfi Hassan Ishaq ke Anis Matta?

Pengamat politik President University AS Hikam sampai angkat bicara. Mantan Menristek di era Presiden Gus Dur tersebut berkata:

“Manajemen kontrol kerusakan (damage control management) PKS patut diacungi jempol dan ditiru oleh partai lain. Ke depan, PKS bisa mengubah kekacauan menjadi keuntungan dengan mengganti Presiden mereka, Luthfi Hasan Ishaq.”

Mengapa?

“Ini karena budaya politik PKS mengutamakan kepentingan organisasi ketimbang figur, memikirkan jangka panjang ketimbang jangka pendek. Kader selevel Luthfi Hasan Ishaq (LHI) tampaknya juga tak sulit dicari di PKS. Di partai ini juga tidak ada kendala-kendala seperti hubungan keluarga, darah biru, dan tetek bengek lain seperti yang dikenal di parpol lain,” jelas Hikam lagi.

Di partai lain, suksesi kepemimpinan selalu riuh. Politik uang dan kubu-kubuan selalu tersaji. Bahkan sering kali berujung pada lahirnya partai sempalan akibat ketidakpuasan calon pimpinan partai yang kalah. Figuritas, darah keluarga, dan uang masih menjadi faktor dominan dalam menentukan seseorang menjadi pimpinan partai.

Suksesi kepemimpinan model PKS harus menjadi role model bagi partai lain. Karena proses tersebut menjadi etalase sebuah partai yang dengan mudahnya dilihat oleh publik. Saat suksesi berlangsung lancar tanpa konflik, itu mencerminkan soliditas partai yang bermuara pada simpati publik.
Simak apa yang dikatakan Pengamat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro atau Wiwieq. Menurutnya, perombakan jajaran elite PKS ini sebagai bentuk soliditas partai. Kesan positif harus diberikan untuk menarik kepercayaan publik.

“Sebab hanya partai solid dan tidak berkonflik yang akan mengundang kepercayaan publik,” tutur Wiwieq.

PKS pada akhirnya memang terkena getah seperti yang dirisaukan Dahlan Iskan. Tapi tak banyak getah yang melekat pada tubuh partai dakwah ini. Sejauh ini, hanya satu atau dua tetes getah yang mampir karena sulit dihindari. Dan suksesi kepemimpinan yang memunculkan DR Salim Segal Al Jufri sebagai Ketua Majelis Syuro, dan Muhammad Sohibul Iman, PhD menjadi Presiden PKS adalah buktinya. Suksesi yang menjadi anomali di dunia yang bergetah.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002

Sumber :
Suksesi PKS dan Anomali Di Dunia yang Bergetah http://www.kabarumat.com/2015/08/3216/suksesi-pks-dan-anomali-di-dunia-yang-bergetah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s