RAMADHAN DAN ETOS KERJA


image

Khutbah 'Iedul Fithri 1436 H Ahmad Heryawan

Assalamu’alaikum wr. wb.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Rasa syukur kita haturkan untuk Sang Penguasa Alam, Allahu Rabbul ‘Alamin, yang senantiasa mengaruniai kita limpahan nikmat dan rahmat, hingga kita semua tak pernah sanggup untuk menghitung. Ungkapan syukur juga dituturkan atas nikmat hidayah, keislaman dan keimanan yang masih dilekatkan pada diri kita semua sehingga masih dapat berkumpul di tempat yang dirahmati Allah SWT.

Hendaklah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan kepada pemimpin kita bersama dan teladan kita bersama. Shalawat dan salam untuk manusia mulia, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah bersusah payah mendakwahkan Islam hingga seruannya masih dapat bergema di hati kita hingga hari ini. Juga shalawat dan salam bagi keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua yang hadir di tempat ini, dipandang layak untuk dihimpun bersama Rasulullah SAW dan kafilah panjang penuh berkah yang menyertainya.

Terkadang kita tidak menyadari berjalannya waktu. Tanpa terasa kita tengah beranjak memasuki bulan Syawal, meninggalkan suatu bulan yang dihiasi oleh banyak hikmah dan taujih Rabbani. Bulan Ramadhan, bulan paling mulia di sisi Allah telah bergegas pergi meninggalkan kita semua. Kita baru saja ditinggalkan suatu bulan yang memberikan kesempatan kepada manusia untuk datang bersimpuh di hadapan Sang Maha Pengampun mengakui berbagai kekeliruan, bertaubat dan memohon ampunan atas segala dosa. Bulan yang penuh dengan keistimewaan karena melatih kita untuk memahami penderitaan para fakir miskin, mengarahkan kita untuk menahan diri dari nafsu keduniaan, menganjurkan agar saling berbagi kebaikan menyambung kasih dan tali silaturahmi. Bulan dimana setiap muslim dituntut untuk memberikan amal-amal terbaiknya dengan semangat tinggi baik di siang maupun malam hari untuk mencapai cita-cita tinggi menggapai lailatul qadar. Kini bulan Ramadhan, sebuah bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam nilainya lebih baik dari seribu bulan, sudah tidak bersama kita lagi. Pagi hari ini disaksikan oleh sinar mentari dan gerak riang dedaunan, kita telah memasuki bulan Syawal dan tengah berpadu untuk merayakan Idul Fitri sebagaimana dicontohkan oleh tuntunan kita Rasulullah Muhammad SAW. Semoga semua amalan kita di Bulan Ramadhan dapat diterima Allah SWT dan semoga semua doa-doa untuk kebaikan diri, keluarga dan bangsa juga dapat diaminkan oleh para malaikat serta akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Bapak Ibu yang dirahmati oleh Allah. Di tengah begitu banyaknya perubahan yang berlangsung begitu cepat dan di tengah ketidakpastian global, datanglah kepada kita tamu agung bulan Ramadhan. Di dalamnya, sesungguhnya kita semua dibina (tarbiyah) utuk menjadi pribadi yang memiliki etos kerja produktif dalam mengisi hari-hari ramadhan yang penuh pahala dan ampunan itu. Karenanya kita semua menyaksikan bagaimana para pendahulu agama ini mencontohkan bahwa tidak mungkin umat Islam mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, tanpa dibarengi dengan semangat beramal yang tinggi.

Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa berusaha dan bekerja keras serta kerja cerdas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membangun masa depannya. Telah menjadi sunatullah di dunia bahwa kemakmuran akan dicapai oleh mereka yang bekerja dan memanfaatkan segala potensinya untuk mencapai keinginannya.

Firman Allah SWT:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠
“…Apabila sholat jum’at telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (QS. Al- Jumu’ah: 10)

Allah juga berfirman:

وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَۗ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ١٠
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al-A’Raf: 10)

Ayat diatas menunjukan bahwa kaum muslimin yang ingin mencapai kemajuan hendaknya harus bekerja dengan sepenuh hati. Tidak heran jika banyak orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, tetapi mau bekerja keras akan mendapatkan kemakmuran di dunia, walaupun kesuksesannya terbatas didunia saja. Sebaliknya, adapula yang beriman kepada Allah SWT., tetapi tidak mau bekerja dan berusaha akan sulit mendapatkan kemakmuran. Karena itu, secara kasat mata kita dapat melihat bangsa-bangsa yang maju di dunia, adalah bangsa-bangsa yang memiliki semangat dan etos kerja kemandirian yang sangat kuat.

Allah SWT menurunkan Al-Quran untuk menjadi pedoman agar manusia tetap komitmen dengan ajarannya. Yaitu ajaran yang salah satu karakteristiknya adalah keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat. Ajaran yang senantiasa memberikan arahan bahwa bagi mereka yang beramal dan bekerja secara unggul dan terbaik serta penuh sungguh-sungguh akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda di akhirat dan kesejahteraan serta kemakmuran di dunia.

Firman Allah SWT:
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, pasti Kami akan berikan kehidupan yang baik kepadanya dan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 97).

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Oleh karena itu, sesungguhnya manusia dalam hubungannya dengan kehidupan di dunia dan akhirat dapat terbagi menjadi tiga golongan yaitu; (1) mereka yang lebih menyibukkan dirinya untuk kehidupan akhirat dan mengabaikan kehidupan dunia; (2) mereka yang lebih menyibukkan dirinya untuk kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat; dan (3) orang yang berada di antara keduanya, yakni mereka yang mau menyeimbangkan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat.

Islam menuntun kita untuk senantiasa berada pada jalur keseimbangan antara kehidupan di dunia dan kehidupan diakhirat. Kita ingin berada pada predikat orang sukses yang mampu memadukan dan menyeimbangkan dua hal tersebut. Sehingga kehidupan yang sedang kita jalani ini merupakan sarana (wasail) untuk investasi masa depan kita di akhirat nanti.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ad Dunya Mazruatul Akhirah”
“Dunia adalah tanaman yang buahnya dipetik di Akhirat”

Allah SWT juga berfirman:

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧
“…Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qosos:77)

Dengan demikian, dalam membangun dan mengisi kehidupan dunia diperlukan sejumlah keahlian (kompetensi) yang memadai agar apa yang kita usahakan dan apa yang ingin kita raih dapat tercapai secara optimal dan terukur. Menariknya, semua ajaran tentang etos kerja yang tinggi ini sesungguhnya telah dicontohkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan terutama pada sepuluh terakhir Ramadhan. Kerja keras dalam beramal saleh yang diajarkan untuk mencapai balasan lailatul qadar adalah sebuah latihan bagaimana pentingnya etos kerja tinggi untuk mencapai cita-cita. Karena itulah, pribadi dengan etos kerja yang tinggi semestinya dan seharusnya merupakan buah dari tempaan selama bulan Ramadhan. Hal ini seharusnya menjadi bekal bagi segenap masyarakat Jawa Barat dalam menyongsong kehidupan dimasa yang akan datang dengan lebih baik. Semangat yang ditularkan selama bulan ramadhan seperti melaksanakan qiyamul lail, membaca Al-quran, serta mengejar lailatul qodar merupakan contoh bahwa ummat Islam sesungguhnya memiliki semangat tinggi dalam mewujudkan etos kerja yang produktif. Kerelaan umat Islam mengisi malam-malam terakhir di bulan Ramadhan sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan yang sama dimana seseorang mengisi malam-malam dengan amal dan kerja juga dengan mudah kita jumpai di Negara-negara maju dengan etos kerja yang tinggi. Jika hasil tempaan Ramadhan ini dapat terus dijaga setelah selesai Ramadhan maka sangat wajar jika kita memiliki mimpi untuk sejajar bahkan lebih tinggi dari bangsa-bangsa yang maju di dunia.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Jamaah sholat Iedul Fitri yang dirahmati oleh Allah SWT, menarik mencermati ilustrasi tentang kemajuan umat Islam yang pernah diraih pada abad pertengahan. Sesungguhnya para pelopor ilmu pengetahuan dan kemajuan pada masa itu justru didominasi oleh ulama-ulama yang sangat religious tapi tetap bisa bekerja keras dalam bidang keahlian dan keilmuannya. Tengoklah sosok Ibnu Khaldun yang hafal Quran tapi juga peletak dasar ilmu sosial dan sejarah, kita bisa lihat juga seorang Umar Bin Abdul Aziz yang selain hafal Quran dan ahli Ekonomi beliau juga kepala Negara (khalifah) di masa Bani Umayyah, atau seorang Ibnu Sina yang hafal Quran di usia 5 tahun kemudian telah menjadi dokter professional pada usia 17 tahun dan akhirnya menjadi peletak ilmu kedokteran yang menjadi referensi utama hingga saat ini. Situasi yang sama juga dapat kita lihat pada sejarah kemajuan bangsa Jepang yang pada akhir abad ke 19 kelas Samurai yang religius menjadi pelopor kebangkitan dan kemajuan Jepang modern dengan berbagai karya inovasi dan teknologinya.

Kekuatan ruhiyah / religi yang dibarengi dengan etos kerja tinggi pada akhirnya mampu melahirkan masyarakat yang memiliki karakter disiplin tinggi, tekun serta pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantang zaman. Pada titik inilah mereka mampu melahirkan negara yang baik (baldah toyibah) salah satu syarat bagi terwujudnya negara kesejahteraan.

Berkaca pada ilustrasi diatas tersebut, sesungguhnya masyarakat Jawa Barat yang memiliki karakter ke-Islaman kental semestinya mampu hadir menjadi masyarakat yang memiliki daya saing tinggi dengan menerapkan semangat hidup beretos tinggi dalam bingkai nilai-nilai Islam. Hal ini sesungguhnya juga telah dicontohkan oleh pribadi ulung Nabi Muhammad SAW, yang memulai karir hidupnya pada awal abad ke-6 Masehi, jauh sebelum peradaban Barat dan Asia maju.

Islam sudah mengajarkan semangat dan etos kerja yang tinggi. Islam memberikan panduan bahwa bekerja secara halal merupakan kemestian bagi setiap kaum muslimin, bekerja untuk menjaga diri supaya tidak menjadi beban orang lain, bekerja untuk kebutuhan keluarga, bekerja untuk meringankan beban masyarakat, serta bekerja untuk bangsa dan Negara, dan titik akhirnya bekerja untuk ibadah kepada Allah SWT.

Dalam mengemban misi kenabiannya, Muhammad SAW tetap mengemban semangat profetiknya, yaitu melakukan pembebasan manusia dari ketertindasan, kemiskinan, dan kebodohan. Salah satu fokus dakwah nabi Muhammad SAW pada tahap tersebut, yakni lebih menitik beratkan pada aspek pembangunan ekonomi melalui jalur perdagangan. Jiwa wirausaha dengan etos tinggi dari Rasulullah SAW tampak ketika masih berusia 12 tahun, ketika pergi ke Syam berdagang bersama pamannya. Saat pamannya mengalami kemunduran ekonomi menjelang usia Muhammad dewasa, maka ia sudah mampu berdiri sendiri dengan melakukan perdagangan di kota Makkah. Ia melakukan perdagangan keliling dengan penuh dedikasi, ketekunan, kecerdasan, dan kejujuran (sidiq), serta kesetiaannya memegang amanah yang merupakan dasar etika orang modern. Dari sifat-sifat demikian, maka berbagai pinjaman komersial (commercial loan) tersedia di kota Makkah yang membuka peluang kemitraan Muhammad dengan para pemilik modal.

Reputasi Nabi dalam dunia bisnis dikenal sebagai orang yang sukses dan beretos kerja tinggi. Rahasia keberhasilan wirausaha Rasulullah SAW adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Nabi Muhammad SAW percaya bahwa kalau ia jujur, setia dan professional, maka pemodal akan mempercayainya. Inilah dasar kepribadian dan etika wirausaha yang diletakkan oleh Rasulullah SAW kepada seluruh umatnya. Dalam perilakunya, Nabi sering memperlihatkan rasa tanggung jawab dan integritas yang tinggi dalam berurusan dengan orang lain.

Seperti riwayat berikut ini: Abdullah ibn Abi Hamza menceritakan bahwa ia pernah melakukan satu transaksi dengan Muhammad SAW, tetapi tanpa sempat menyelesaikan perinciannya tiba-tiba ia terpaksa berangkat untuk suatu pekerjaan yang penting sambil menjanjikan bahwa ia akan segera kembali serta menetapkan batas waktunya. Tetapi selanjutnya ia lupa, dan setelah tiga hari ia teringat akan janjinya, ia pun kembali ke tempat yang sama dan menemukan Muhammad SAW masih berada di sana sedang menunggunya. Muhammad SAW tidak mengatakan sesuatu, selain ia telah menunggu di sana selama tiga hari.

Itulah contoh betapa integritas tinggi mengiringi Rasulullah SAW dalam berbagai kegiatan profetiknya. Seluruh nilai-nilai kinerja yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sesungguhnya adalah sebuah karakter kinerja modern yang saat ini mampu mendorong lahirnya pebisnis-pebisnis modern yang maju seperti Steve Jobs dengan Apple nya, Bill Gates dengan Microsoft nya, Kiichiro Toyoda dengan Toyota nya dan Lei Jun dengan Xiaomi nya, atau yang lainnya.

Pada akhirnya dibutuhkan semangat dan etos kerja masyarakat kita dalam rangka menghadirkan masyarakat yang lebih progresif dan memiliki keunggulan serta mampu berdaya saing tinggi. Masyarakat tersebut tercermin dari karakter yang selalu memiliki prinsip kebersamaan (kolektifitas), persamaan (equality), keadilan (justice), modern dan terbuka (egaliter) serta musyawarah (demokratik). Sehingga pada prinsipnya masyarakat tersebut, terstruktur oleh sistem persaudaraan (muakhah), cinta (alhub) dalam nuansa ikatan iman. Corak masyarakat ini telah terjadi pada masa generasi awal yaitu zaman Nabi Muhammad SAW. Masyarakat ini disebut dengan masyarakat kota (civil society).

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Di hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H ini, mudah-mudahan Allah SWT menganggap kita layak untuk disematkan delapan karakter buah sistem kaderisasi Ramadhan ke dalam hati sanubari kita sebagai jalan bagi bangsa Indonesia untuk bangkit menjadi bangsa maju dan sejahtera. Latihan selama ramadhan kemarin sejatinya mampu melahirkan pribadi-pribadi muslim yang beretos kerja tinggi dalam menggapai cita-cita dan mimpinya. Mudah-mudahan di hari bahagia ini Allah menghadiahkan ummat ini dengan pribadi-pribadi yang memiliki etos kerja tinggi yang mampu membawa seluruh muslim di Jawa Barat dan Indonesia menjadi masyarakat yang maju dan sejahtera.

Perjalanan tidaklah berakhir di hari raya Idul Fitri. Idul Fitri hanya sebuah momentum dimulainya kebangkitan dari jiwa-jiwa baru. Jiwa-jiwa yang tak kenal lelah memperjuangkan nasib ummat dan bangsanya. Pekerjaan besar telah menunggu kita, membangun kemajuan dan peradaban baru berlandaskan manhaj Rabbani. Sebuah peradaban yang membawa keselamatan tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Peradaban yang dapat mengantarkan ummat manusia untuk terhindar dari siksa kubur. Peradaban yang membawa kita dapat dengan mudah melintasi jembatan keadilan shirathal mustaqim. Peradaban yang mampu membawa kita ke kampung abadi, surga yang penuh dengan keberkahan dan kenikmatan.

Mentari 1 Syawal 1436 H di ufuk timur, mudah-mudahan menjadi saksi bahwa Hari raya Idul Fitri kali ini menjadi tonggak lahirnya sebuah komitmen bersama untuk senantiasa menjaga etos kerja dengan semangat tinggi serta membangun dunia yang lebih baik. Kita tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Berjalan bersama-sama segalanya terasa ringan. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemulian kepada bumi Jawa Barat untuk mengawali kebangkitan etos kerja yang tinggi menuju peradaban mulia yang berlandaskan pada manhaj Ilahi di mulai dari bumi Jawa Barat dan Indonesia, Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s