Sangka Baik Awal Harmonisasi Rumah Tangga


image

By. Satria hadi lubis

Apa yang dilakukan isteri ketika suami pulang terlambat? Apakah isteri akan menyambutnya dengan senyum dan siap melayani atau bertanya dengan nada selidik dan curiga? Jawaban atas pertanyaan ini merupakan tes sederharna apakah suasana saling percaya ada di dalam rumah tangga atau tidak. Jika isteri tersenyum dan melayani lebih dahulu sampai suami sendiri menjelaskan kenapa ia pulang terlambat, maka berarti sang isteri menempatkan sangka baik dan kepercayaan dalam hubungan dengan suaminya. Tapi jika sebaliknya, sering bertanya dengan nada curiga, merupakan indikasi sang isteri kurang percaya kepada suaminya.

Perintah selalu bersangka baik adalah perintah yang turun langsung dari Allah SWT. “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.QS. al-Hujurat (49) : 12. Dalam ayat di atas, Allah mengharamkan kita untuk bersangka buruk (su’uzhon) kepada orang lain. Jika kepada orang lain yang mungkin tidak begitu dekat hubungannya dengan kita Allah swt melarang bersangka buruk, apalagi terhadap orang yang serumah dan seranjang dengan kita, yakni suami atau isteri kita. Namun realita saat ini menunjukkan sebaliknya, hubungan suami isteri menjadi tidak sehat karena ada ketidakpercayaan satu sama lain. Studi menarik yang dilakukan jurnal CyberPsychology menunjukan ada 28 juta pasangan bercerai hanya gara-gara menunda jawaban ketika pasangan mengirim pesan via whatsapp dan facebook. “Kenapa tidak dijawab sih pesan saya? Kamu lagi ngapain?” ini pertanyaan yang sering diajukan suami atau isteri ketika pasangannya tidak langsung menjawab. Ada gejala ketidakpercayaan yang berkelindan menjadi kecurigaan, sehingga menjadi pemicu pertengkaran antar suami isteri. Sebagian mereka karena tidak mampu memulihkan kepercayaan akhirnya berujung pada perceraian.

Lalu bagaimana agar suami isteri terbiasa bersangka baik dan saling percaya? Ada beberapa hal yang perlu dilakukan :

  1. Jangan berbohong kepada pasangan.
    Biasanya ketidakpercayaan antar suami isteri berawal dari perasaan pernah dibohongi. Mungkin suami atau isteri kurang terbuka dengan pasangan, sehingga ketika ada kejadian yang tidak dimengerti pasangan ia merasa dibohongi. Atau mungkin salah satu pihak pernah melanggar janji, sehingga pihak yang lain merasa dibohongi. Oleh sebab itu, terbukalah kepada pasangan dan jika berjanji maka tepatilah, sehingga pasangan makin percaya kepada kita. Ada sebagian kecil suami yang menjadikan tindakan Rasulullah saw yang pernah berbohong kepada isterinya, Aisyah ra, tentang rasa makanan sebagai dalih untuk berbohong kepada isterinya dalam pengertian yang luas, termasuk untuk menikah lagi tanpa diketahui isterinya. Dalih semacam ini tentu sangat tidak tepat. Seakan-akan Rasulullah saw mengajarkan kita berbohong kepada isteri. Padahal yang diperbolehkan hanya berbohong tentang rasa makanan agar menyenangkan hati isteri. Atau kalau mau diperluas berbohong tentang pakaian atau hal-hal kecil lainnya yang dilakukan isteri agar menyenangkannya. Bukan berbohong dalam hal-hal yang menyakiti hati pasangan.
  2. Cari seribu satu alasan untuk bersangka baik
    Dalam kisah haditsul ifki (berita bohong), dimana Aisyah ra diisukan selingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal ra maka sikap Rasulullah saw justru tetap percaya kepada Aisyah ra walau berita itu sudah tersebar ke seluruh seantero Madinah. Bahkan Rasulullah saw bertanya pun tidak kepada Aisyah untuk mengecek apakah berita  tersebut benar atau tidak. Sampai akhirnya Allah yang menjawab tuduhan bohong tersebut : “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan dan siapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. (QS. An-Nuur [24]: 11). Begitulah Nabi kita sangat percaya dengan isterinya. Begitulah mestinya kita sebagai pengikut Nabi Muhammad saw, mestinya mencari seribu satu alasan untuk tetap percaya dan selalu bersangka baik kepada pasangan.

  3. Lebih banyak memberikan “setoran” daripada “penarikan”.
    Agar selalu tumbuh sangka baik dari pasangan maka suami atau isteri perlu lebih banyak memberikan “setoran” daripada “penanrikan”. Yang dimaksud “setoran” adalah banyak memberikan kebaikan-kebaikan kepada pasangan, seperti tersenyum, berkata lembut, menolong, menepati janji, dan lain-lain, sehingga membuat pasangan kita simpati kepada kita. Sedang yang dimaksud “penarikan” adalah perbuatan yang bersifat mengecewakan, sehingga menimbulkan antipasti dari pasangan. Misalnya, berbohong, berkata kasar, egois, melanggar janji, dan lain-lain. Jika kita lebih banyak melakukan “setoran” daripada “penarikan” maka sangka baik akan lebih mudah tumbuh daripada kalau kita lebih banyak melakukan “penarikan”.

Oleh sebab itu, mari kita budayakan sangka baik dan saling percaya kepada pasangan. Mulai dari yang kecil, misalnya tidak suka memeriksa handphone pasangan. Di sisi lain, handphone juga tidak usah di-password agar tidak mengundang kecurigaan pasangan. Jika pun kita curiga pada pasangan maka harus didahului dengan bukti-bukti yang kuat (data dan fakta ada). Bukan hanya berdasarkan opini semata tanpa bukti yang kuat sehingga tidak menyesal kelak karena menuduh tanpa bukti. Allah swt mengingatkan kita agar tabayyun (check and recheck) terhadap informasi (negatif) yang belum jelas. Apalagi jika informasi itu tentang pasangan kita. Tentu kita harus lebih hati-hati lagi.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6). [SB]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s