“Best Speaker” Pildacil Juarai Lomba Penulisan Kebangsaan PKS


image

Sherly Annavita saat menerima hadiah dari Siti Zuhroh, Ketua Dewan Juri Lomba Penulisan Kebangsaan FPKS DPR RI

PKS-Cibitung.Com [TM]
Sherly Annavita peraih juara I Lomba Penulisan Kebangsaan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI untuk kategori umum adalah “alumni” Pildacil yang digelar Lativi pada tahun 2006 dan meraih “best speaker” diusianya yang ke-14 tahun ketika itu, sebagaimana dikutip dari portal Serambi Indonesia.

Lomba Penulisan Kebangsaan digelar dalam rangka Milad ke-17 PKS. Pengumumang pemenang dan penyerahan hadiah dilaksanakan di Ruang Fraksi PKS DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (3/6). Lomba tersebut terbagi tiga kategori. Untuk kategori mahasiswa juara I diraih Zinal Airlangga dari UI, dan kategori ibu rumah tangga diraih Nafta Chaustine Fatahillah.

Sherly, lahir di Lhokseumawe, 12 September 1992, menyertakan karya tulis berjudul “Islam dan Modernitas: Refleksi Pola Fikir dan Moral Masyarakat Indonesia dalam Kehidupan Bernegara.” Atas kemenangan itu Sherly berhak atas hadiah Rp 7,5 juta.

“Alhamdulillah, saya bersyukur atas kemenangan ini,” kata Sherly usai penyerahan hadiah.

Anggota Fraksi PKS DPR RI, M Nasir Djamil memuji potensi Sherly sebagai generasi muda yang cemerlang. “Kita mendorong generasi muda Aceh terus tumbuh dan berkembangan dalam dunia kepenulisan ilmiah,” komentar Nasir Djamil.

Sherly menjalani pendidikan sekolah menengah di Arun, Lhokseumawe, dan melanjutkan pendidikan di Universitas Paramadina, Jurusan Hubungan Internasional.

Sherly menjelaskan, persolan utama di Indonesia berangkat dari pola fikir masyarakatnya. “Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi pola pikir Islam tidak muncul dalam kehidupan bernegara,” katanya.

Menggunakan teori modernitas yang membahas tentang kebenaran subjektif, Sherly menyatakan, justru persoalan itu muncul karena menganut kebenaran subjektif, di mana semua orang berhak mengatakan kebenarannya sendiri. “Padahal kebenaran itu bersifat mutlak,” sebutnya.

Menurut Sherly, ada dua masalah besar bangsa ini yang harus dituntaskan. Pertama pola pikir dan keyakinan masyarakat khususnya muslim tentang kebenaran mutlak tadi, dan kedua pemimpin sebagai corong dari masyarakat dalam menentukan aturan. “Pendidikan merupakan sarana utama untuk mengubah pola fikir tersebut, utamanya pendidikan dalam keluarga,” demikian Sherly.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s